Sunday, 22 December 2013

7 Bangunan Tertinggi di Dunia

 
 
Dewasa ini negara-negara maju mulai berlomba mendirikan bangunan – bangunan unik. Keunikan dan ketinggian suatu bangunan juga bisa dijadikan ciri khas yang dapat mewakili negara tersebut.
Berikut adalah daftar 7 bangunan tertinggi di dunia:

1. Burj Khalifa di Dubai
Burj Khalifa terletak di Dubai, Uni Emirat Arab. Gedung ini dinobatkan sebagai gedung tertinggi di dunia pada tahun 2010. Memiliki ketinggian 828 m (6 kali tinggi Monas di jakarta)  dan didalamnya terdapat 900 unit apartemen serta menghabiskan dana USD 1,5 Miliar . Mulai dibangun pada awal tahun 2004 dan dibuka untuk umum di tahun 2010, gedung yang menjadi kebanggaan negara penghasil minyak itu belum ada yang menandingi hingga saat ini.
Burj Khalifa di Dubai
Burj Khalifa di Dubai
Burj Khalifa di Dubai
Burj Khalifa di Dubai

2.  Abraj Al-Bait Tower di Mekkah
Abraj Al-Bait Tower atau juga dikenal sebagai Mecca Royal Hotel Clock Tower ini terdapat di Kota Mekkah, Saudi Arabia. Terletak tepat di pintu selatan Masjidil Haram, menara setinggi 601 meter ini memiliki 120 lantai. Dibangun secara bertahap sejak tahun 2004 dan dibuka pada tahun 2012. Terdiri dari 7 (tujuh) buah menara, menara paling tinggi dinamakan Hotel Tower yang dijadikan hotel berbintang tujuh (7), sedangkan 6 menara lainnya digunakan sebagai apartemen. Bangunan dibawah menara diisi dengan 5 (lima) lantai pusat perbelanjaan, ruang konferensi dan fasilitas – fasilitas lain, termasuk ruang ibadah yang sanggup menampung hingga 10.000 orang jemaah.
Abraj Al-Bait Tower di Mekkah
Abraj Al-Bait Tower di Mekkah
Mecca Royal Hotel Clock Tower
Mecca Royal Hotel Clock Tower


3. Taipei Tower di Taipei, Taiwan
Taipei Tower di Taipei, Taiwan
Taipei Tower di Taipei, Taiwan
Taipei Tower adalah gedung pencakar langit setinggi 508 m dengan 101 tingkat. Nama resminya adalah Gedung Finansial Internasional Taipei atau Taipei World International Center. Gedung ini dibuka pada 31 Desember 2004 dengan luas total 450.000 m2 dan menghabiskan dana sebesar USD 1,8 Miliar. Gedung ini menjadi bangunan paling modern yang pernah dibuat oleh manusia, memiliki keunggulan fiber optik dan fasilitas internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabyte per detik. Dua lift tercepat di sediakan oleh Toshiba yang mencapai kecepatan maksimum 1.010 m/min (63km/jam atau 39 mil/jam) berati mampu membawa pengunjung dari lantai dasar ke lantai 89 dalam waktu 39 detik. Sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88, untuk menstabilkan menara ini terhadap goyangan yang timbul dari gempa bumi,angin topan maupun gaya geser dari angin.
Taipei World International Center
Taipei World International Center


4. Shanghai World Financial Center di Shanghai
Shanghai World Financial Center di Shanghai
Shanghai World Financial Center di Shanghai
Dari jauh gedung ini terlihat sebagai pembuka botol raksasa.  Dibangun di distrik Pudong, Shanghai China, bangunan setinggi 494, 3 meter ini dibangun mulai tahun 1997 dan selesai tahun 2008 dengan total biaya USD 1,2 Miliar. Gedung yang memiliki 101 lantai ini digunakan untuk perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan museum dan lain- lain. Gedung ini juga dinobatkan sebagai bangunan dengan ruang terbuka terbesar didunia, yaitu 474 m°di lantai 100 mengalahkan Burj Khalifa yang ‘hanya’ memiliki ruang terbuka seluas 452 m2  di lantai 124.
Shanghai World Financial Center di Shanghai
Shanghai World Financial Center di Shanghai
Shanghai World Financial Center di Shanghai
Shanghai World Financial Center di Shanghai


5. The International Commerce Center di Hongkong
The International Commerce Center di Hongkong
The International Commerce Center di Hongkong
The International Commerce Center atau ICC Tower adalah salah satu bagian dari Union Square yang dibangun di atas Kowloon Station, Hongkong. bangunan tertinggi di Hongkong ini memiliki 118 lantai dengan total ketinggian 484 meter. Dibangun mulai tahun 2005 dan selesai di pertengahan 2010, gedung yang awalnya bernama Union Square Phase 7 ini resmi dibuka pada tahhun 2011.
The International Commerce Center di Hongkong
The International Commerce Center di Hongkong
The International Commerce Center di Hongkong
The International Commerce Center di Hongkong


6. Menara Kembar Petronas, Malaysia
Menara Kembar Petronas, Malaysia
Menara Kembar Petronas, Malaysia
Bangunan kebanggaan negara yang memiliki rumpun sama dengan Indonesia ini memiliki ketinggian 451,9 meter. Dibangun sejak tahun 1992 dan selesai pada tahun 1998, dengan jumlah lantai sebanyak 88 ini berdiri tepat di jantung kota Kuala Lumpur, Malaysia. Dirancang oleh Ir. Achmad Moerdijat alumni ITB, Bandung, memiliki 2 (dua) gedung utama yang dihubungkan dengan jembatan. Menghabisakan dana sebesar USD 1,2 Miliar, gedung ini sebagian besar digunakan untuk perkantoran dan keperluan komersial. Saat ini menara kembar petronas juga dinobatkan sebagai menara kembar tertinggi di dunia setelah runtuhnya gedung kembar World Trade Center di Amerika Serikat.
Menara Kembar Petronas, Malaysia
Menara Kembar Petronas, Malaysia


7. Zifeng Tower di China
Zifeng Tower di China
Zifeng Tower di China
Terletak di kota Nanjing, China, bangunan setinggi 450 meter ini memiliki 89 lantai. Dibangun dengan jangka wantu 5 (lima) tahun sejak tahun 2005 oleh arsitek terkemuka, Adrian Smith. Memiliki nama lain Nanjing Greenland Financial Center, gedung tertinggi kedua di China ini banyak digunakan untuk hotel, perkantoran dan memiliki sebuah observatorium di bagian atas.
Zifeng Tower di China
Zifeng Tower di China
 MACAM- MACAM PONDASI



1. Pondasi telapak (untuk Rumah Panggung)
a
Pondasi telapak merupakan jenis pondasi sederhana yang telah digunakan oleh masyarakat indonesia sejak zaman dulu. Pondasi ini terbuat dari beton tanpa tulang yang dicetak membentuk limas segi empat seperti pada gambar disamping. Sistem kerja pondasi ini menerapkan sistem tanam. Jadi pondasi telapak ini menahan kolom yang tertanam di dalamnya sehingga tidak masuk dalam tanah. Seperti halnya ketika kita menggunakan sebuah ganjalan yang pipih atau ganjalan yang lebih lebar untuk standar motor ketika di tempatkan pada tanah yang lembek.

2. Pondasi Rollag Bata (untuk Penahan lantai)
a
Rollag bata merupakan pondasi sederhana yang fungsinya bukan menyalurkan beban bangunan, melainkan untuk menyeimbangkan posisi lantai agar tidak terjadi amblas pada ujung lantai. Pondasi ini biasanya digunakan untuk membuat teras rumah, fungsinya hampir sama dengan sloof gantung namun rollag bata tidak sekuat sloof gantung dan tidak semahal sloof gantung.

3. Pondasi Batu Kali (untuk Bangunan Sederhana 1-2 lantai)
a
Pondasi batu kali merupakan pondasi penahan dinding yang digunakan pada bangunan sederhana. Pondasi ini terdiri dari batu kali dan perekat yang berupa campuran pasir dan semen. Biasanya campuran agregat untuk merekatkan batu kali ini menggunakan perbangingan 1 : 3 karena batu kali akan selalu menerima rembesan air yang berasal dari tanah. Sehingga membutuhkan campuran yang lebih kuat menahan rembesan.

4. Pondasi Batu Bata (untuk Bangunan Sederhana)
a
Seperti halnya pondasi Batu Kali, pondasi batu bata memiliki fungsi sama. Namun yang membedakan keduanya hanyalah bahan yang digunakan serta kondisi alam di daerah sekitarnya. Dikarenakan batu-bata merupakan bahan yang rentan terhadap air, maka pemasangan harus lebih maksimal artinya bata yang dipasang harus dapat terselimuti dengan baik.

5. Pondasi Tapak atau Ceker Ayam (untuk Bangunan bertingkat   2-3 Lantai)
a
Pondasi tapak merupakan pondasi yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia ketika mendirikan sebuah bangunan. Terutama bangunan bertingkat serta bangunan yang berdiri di atas tanah lembek. Pondasi tapak di temukan oleh Alm Prof Ir Sediyatmo tsb, dan dikembangkan oleh Prof Ir Bambang Suhendro, Dr harry Christady dan Ir Maryadi Darmokumoro, yang dikenal dengan Sistim Cakar Ayam Modifikasi (CAM). Modifikasi yang dilakukan adalah : penggantian pipa beton menjadi pipa baja tipis tebal 1.4 mm, perhitungan dalam 3 Dimensi dan penambahan "koperan" pada tepi slab. Sistim CAM tsb telah di uji skala penuh oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan di ruas jalan Pantura Indramyu-Pemanukan (2007) dan digunakan di Jalan Tol seksi 4 Makasar (2008).

6. Pondasi Sumuran (untuk Bangunan Bertingkat)
a
Pondasi sumuran memiliki fungsi sama dengan pondasi footplat. Pondasi sumuran merupakan pondasi yang berupa campuran agregat kasar yang dimasukan kedalam lubang yang berbentuk seperti sumur dengan besi-besi di dalamnya. Pondasi ini biasanya digunakan pada tanah yang labil dan memiliki sigma 1,50 kg/cm2. Pondasi sumuran juga dapat digunakan untuk bangunan beralantai banyak seperti medium rise yang terdiri dari 3-4 lantai dengan syarat keadaan tanah relatif keras.

7. Pondasi Bored Pile atau Strauss pile (untuk Bangunan Bertingkat)
a
Pondasi Bored pile digunakan untuk banguna berlantai banyak seperti rumah susun yang memiliki lantai 4-8 lantai. Pondasi ini berbentuk seperti paku yang kemudian di tancapkan kedalam tanah dengan menggunakan alat berat seperti kren.

8. Pondasi Tiang Pancang atau Paku Bumi (untuk bangunan bertingkat)
a
Pondasi tiang pancang ini merupakan pondasi yang banyak digunakan untuk pembangunan gedung berlantai banyak seperti Apartment, Kondominium, Rent Office dan sebagainya. Pondasi ini hampir sama dengan pondasi bored pile. Namun pondasi tiang pancang memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan pondasi bored pil.

Sunday, 15 December 2013

Civil engineering

Civil engineering is a professional engineering discipline that deals with the design, construction, and maintenance of the physical and naturally built environment, including works like roads, bridges, canals, dams, and buildings. Civil engineering is the oldest engineering discipline after military engineering, and it was defined to distinguish non-military engineering from military engineering. It is traditionally broken into several sub-disciplines including environmental engineering, geotechnical engineering, geophysics, geodesy, control engineering, structural engineering, transportation engineering, earth science, atmospheric sciences, forensic engineering, municipal or urban engineering, water resources engineering, materials engineering, offshore engineering, quantity surveying, coastal engineering, surveying, and construction engineering.Civil engineering takes place on all levels: in the public sector from municipal through to national governments, and in the private sector from individual homeowners through to international companies.

History of the civil engineering profession

Engineering has been an aspect of life since the beginnings of human existence. The earliest practice of civil engineering may have commenced between 4000 and 2000 BC in Ancient Egypt and Mesopotamia (Ancient Iraq) when humans started to abandon a nomadic existence, creating a need for the construction of shelter. During this time, transportation became increasingly important leading to the development of the wheel and sailing.
Until modern times there was no clear distinction between civil engineering and architecture, and the term engineer and architect were mainly geographical variations referring to the same person, often used interchangeably.  The construction of Pyramids in Egypt (circa 2700–2500 BC) might be considered the first instances of large structure constructions. Other ancient historic civil engineering constructions include the Qanat water management system (the oldest older than 3000 years and longer than 71 km) the Parthenon by Iktinos in Ancient Greece (447–438 BC), the Appian Way by Roman engineers (c. 312 BC), the Great Wall of China by General Meng T'ien under orders from Ch'in Emperor Shih Huang Ti (c. 220 BC)  and the stupas constructed in ancient Sri Lanka like the Jetavanaramaya and the extensive irrigation works in Anuradhapura. The Romans developed civil structures throughout their empire, including especially aqueducts, insulae, harbors, bridges, dams and roads.
In the 18th century, the term civil engineering was coined to incorporate all things civilian as opposed to military engineering. The first self-proclaimed civil engineer was John Smeaton who constructed the Eddystone Lighthouse.  In 1771 Smeaton and some of his colleagues formed the Smeatonian Society of Civil Engineers, a group of leaders of the profession who met informally over dinner. Though there was evidence of some technical meetings, it was little more than a social society.
In 1818 the Institution of Civil Engineers was founded in London, and in 1820 the eminent engineer Thomas Telford became its first president. The institution received a Royal Charter in 1828, formally recognising civil engineering as a profession. Its charter defined civil engineering as:
the art of directing the great sources of power in nature for the use and convenience of man, as the means of production and of traffic in states, both for external and internal trade, as applied in the construction of roads, bridges, aqueducts, canals, river navigation and docks for internal intercourse and exchange, and in the construction of ports, harbours, moles, breakwaters and lighthouses, and in the art of navigation by artificial power for the purposes of commerce, and in the construction and application of machinery, and in the drainage of cities and towns.
 The first private college to teach Civil Engineering in the United States was Norwich University founded in 1819 by Captain Alden Partridge. The first degree in Civil Engineering in the United States was awarded by Rensselaer Polytechnic Institute in 1835. The first such degree to be awarded to a woman was granted by Cornell University to Nora Stanton Blatch in 1905.


History of civil engineering

Civil engineering is the application of physical and scientific principles for solving the problems of society, and its history is intricately linked to advances in understanding of physics and mathematics throughout history. Because civil engineering is a wide ranging profession, including several separate specialized sub-disciplines, its history is linked to knowledge of structures, materials science, geography, geology, soils, hydrology, environment, mechanics and other fields.
Throughout ancient and medieval history most architectural design and construction was carried out by artisans, such as stonemasons and carpenters, rising to the role of master builder. Knowledge was retained in guilds and seldom supplanted by advances. Structures, roads and infrastructure that existed were repetitive, and increases in scale were incremental.
One of the earliest examples of a scientific approach to physical and mathematical problems applicable to civil engineering is the work of Archimedes in the 3rd century BC, including Archimedes Principle, which underpins our understanding of buoyancy, and practical solutions such as Archimedes' screw. Brahmagupta, an Indian mathematician, used arithmetic in the 7th century AD, based on Hindu-Arabic numerals, for excavation (volume) computations.